Apa yang bisa
diharapkan dari sesuatu yang ditunggu selama hampir seumur hidupnya dan sama
sekali belum ada kemunculannya. Jangankan bentuk utuhnya, tanda-tandanya saja
sama sekali belum ada. Cinta menendang sepatu kerja Cinta jauh-jauh. Tinggal di
negeri orang dan jauh dari keluarganya membuat
harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup di Tinopel ibu kota
Verchaz, Negara dengan tingkat biaya hidup terbesar ke tiga di dunia. Hanya
apartemen dengan luas secukunyapnya lah yang bisa disewa dengan gaji bulanan nya.
Apartemen ini resmi menemani kehidupan Cinta selama 5 tahun disini, hanya
terdapat kamar tidur, ruang TV yang bergabung dengan ruang tamu, dapur
sederhana dan kamar mandi. Tempat kegemaran nya dari ruangan kecil ini adalah
balkon kecil yang merangkap sebagai tempat menjemur pakaian dan memandang
bintang, walau di kota besar ini hampir mustahil melihat bintang.
Salah
satu kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan dari negara asalnya adalah kebiasaan
mandi dua kali sehari walaupun sedang musim dingin terjadi disini. Rutinitas
yang rutin bagaikan rotasi yang tidak pernah terputus. Pulang kerja,
membersihkan diri, membuat kopi, melamun di balkon dan kemudian tidur tepat jam
10 malam. Rutinitas yang selalu dilakukan itu mengindikasikan bagaimana
kehidupan sosial nya di Tinopel. Kebiasaan dirinya yang suka membaca yang
menyebabkan dirinya dijauhi dari pergaulan, hanya ada beberapa teman kantor
saja yang memang sudah mengenalnya luar dalam yang tidak memperdulikan sifat
acuh yang selalu diperlihatkan jika diajak bersosialisai di bar atau café
setelah pulang dari kantor.
Cuaca malam
ini kurang bersahabat, dengan turunya gerimis membuat sesi melamunya batal
total. Dan diputuskan untuk online sebentar ke keluarga dibelahan bumi sebelah.
Dengan perbedaaan waktu yang hanya 7 jam, Cinta rasa menelepon di jam-jam
seperti ini lebih tepat.
Cinta
log in di skype nya dan langsung meng-klik akun rumah nya, berharap ada orang
dirumah dan mendengar panggilan nya.
“ Hai
Ma...”
“ Halo
Cinta, sudah lama kamu tidak menguhungi kami, bagaimana kabar mu sayang. Ma
harap disana tidah terlalu sering hujan, kulitmu bisa pucat dan kehilangan
pesonanya yg eksotis itu…”
“ Ma!
Bukan eksotis, tapi kusam. Dan kulitku baik-baik aja, begitu juga yang lain.
Bagaimana keadaan disana Ma, Cinta nggak bisa pulang tahun ini, ada beberapa
acara…” yah berburu buku bekas, baju bekas layak pakai di pasar loak bisa
digolongkan acara juga kan.
“ Kamu sudah setahun tidak pulang
loh Ta, kamu selalu ditanyain Kakek dan Nenekmu, apa kamu nggak kangen dengan
keponakan mu disini. Terus kapan kamu membawa calon kesini? Ingat, kamu sudah
nggak muda lagi. Akhir bulan depan kamu udah 27 tahun dan wanita nggak selamnya
muda, jam biologis kamu selalu berdetak..”
Yah memang hanya ibunya yang sanggup
merentetkan barisan kalimat dalam satu helaan nafas. Dibelakng ibunya ada
kilasan ayahnya yang memutar matanya dan memberikan kode untuk tidak membantah
saat ini. Bukan waktu yang tepat
“ Iya Ma, Cinta usahain yah. Semua
sehat kan? Bagus… “ Cinta melihat kernyitan ibunya “ sudah ya ma, Cinta mau
tidur, besok ada meeting dengan bos nya..Oke? Nanti Cinta skyping lagi yah Ma..
Bye, Love you Ma…”
“ Love You Cinta…”
Cepat-cepat Cinta memutuskan
hubungan dan mengecek email pribadinya. Tidak ada email masuk dari Mr O’Connor,
bosnya selalu mengaharap kesediaan nya selama 20 jam sesuai kontrak kerja
dengannya. Bos nya termasuk perfectsionis dan workoholik, dan mungkin hanya Cinta
yang bisa mentolelir rentetan tuntutannya. Bosnya mungkin harus berterima kasih
pada kehidupan sosialnya yang sepi, karena jika Cinta tidak memiliki itu dan
terlalu sibuk berkeliaran di Bar atau Café tidak akan ada lagi 20/7 dalam kamusnya.