Nend3n San6Heuk

my kanata kara.... enjoy and dont judge

Sabtu, 26 November 2016

Story 1



         Apa yang bisa diharapkan dari sesuatu yang ditunggu selama hampir seumur hidupnya dan sama sekali belum ada kemunculannya. Jangankan bentuk utuhnya, tanda-tandanya saja sama sekali belum ada. Cinta menendang sepatu kerja Cinta jauh-jauh. Tinggal di negeri orang dan jauh dari keluarganya membuat  harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup di Tinopel ibu kota Verchaz, Negara dengan tingkat biaya hidup terbesar ke tiga di dunia. Hanya apartemen dengan luas secukunyapnya lah yang bisa disewa dengan gaji bulanan nya. Apartemen ini resmi menemani kehidupan Cinta selama 5 tahun disini, hanya terdapat kamar tidur, ruang TV yang bergabung dengan ruang tamu, dapur sederhana dan kamar mandi. Tempat kegemaran nya dari ruangan kecil ini adalah balkon kecil yang merangkap sebagai tempat menjemur pakaian dan memandang bintang, walau di kota besar ini hampir mustahil melihat bintang. 
          Salah satu kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan dari negara asalnya adalah kebiasaan mandi dua kali sehari walaupun sedang musim dingin terjadi disini. Rutinitas yang rutin bagaikan rotasi yang tidak pernah terputus. Pulang kerja, membersihkan diri, membuat kopi, melamun di balkon dan kemudian tidur tepat jam 10 malam. Rutinitas yang selalu dilakukan itu mengindikasikan bagaimana kehidupan sosial nya di Tinopel. Kebiasaan dirinya yang suka membaca yang menyebabkan dirinya dijauhi dari pergaulan, hanya ada beberapa teman kantor saja yang memang sudah mengenalnya luar dalam yang tidak memperdulikan sifat acuh yang selalu diperlihatkan jika diajak bersosialisai di bar atau café setelah pulang dari kantor.
Cuaca malam ini kurang bersahabat, dengan turunya gerimis membuat sesi melamunya batal total. Dan diputuskan untuk online sebentar ke keluarga dibelahan bumi sebelah. Dengan perbedaaan waktu yang hanya 7 jam, Cinta rasa menelepon di jam-jam seperti ini lebih tepat.
Cinta log in di skype nya dan langsung meng-klik akun rumah nya, berharap ada orang dirumah dan mendengar panggilan nya.
“ Hai Ma...”
“ Halo Cinta, sudah lama kamu tidak menguhungi kami, bagaimana kabar mu sayang. Ma harap disana tidah terlalu sering hujan, kulitmu bisa pucat dan kehilangan pesonanya yg eksotis itu…”
“ Ma! Bukan eksotis, tapi kusam. Dan kulitku baik-baik aja, begitu juga yang lain. Bagaimana keadaan disana Ma, Cinta nggak bisa pulang tahun ini, ada beberapa acara…” yah berburu buku bekas, baju bekas layak pakai di pasar loak bisa digolongkan acara juga kan.
         “ Kamu sudah setahun tidak pulang loh Ta, kamu selalu ditanyain Kakek dan Nenekmu, apa kamu nggak kangen dengan keponakan mu disini. Terus kapan kamu membawa calon kesini? Ingat, kamu sudah nggak muda lagi. Akhir bulan depan kamu udah 27 tahun dan wanita nggak selamnya muda, jam biologis kamu selalu berdetak..”
      Yah memang hanya ibunya yang sanggup merentetkan barisan kalimat dalam satu helaan nafas. Dibelakng ibunya ada kilasan ayahnya yang memutar matanya dan memberikan kode untuk tidak membantah saat ini. Bukan waktu yang tepat
         “ Iya Ma, Cinta usahain yah. Semua sehat kan? Bagus… “ Cinta melihat kernyitan ibunya “ sudah ya ma, Cinta mau tidur, besok ada meeting dengan bos nya..Oke? Nanti Cinta skyping lagi yah Ma.. Bye, Love you Ma…”
         “ Love You Cinta…”
        Cepat-cepat Cinta memutuskan hubungan dan mengecek email pribadinya. Tidak ada email masuk dari Mr O’Connor, bosnya selalu mengaharap kesediaan nya selama 20 jam sesuai kontrak kerja dengannya. Bos nya termasuk perfectsionis dan workoholik, dan mungkin hanya Cinta yang bisa mentolelir rentetan tuntutannya. Bosnya mungkin harus berterima kasih pada kehidupan sosialnya yang sepi, karena jika Cinta tidak memiliki itu dan terlalu sibuk berkeliaran di Bar atau Café tidak akan ada lagi 20/7 dalam kamusnya.